Apakah dunia akan resesi?

Showing posts with label kumpulanhasil. Show all posts
Showing posts with label kumpulanhasil. Show all posts

Saturday, December 16, 2006

Penjualan Merosot, Harga Saham KIJA Berpotensi Turun

Penjualan Merosot, Harga Saham KIJA Berpotensi Turun


JAKARTA - Selama triwulan pertama 2004, penjualan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) tercatat Rp 59 miliar atau turun 49,2 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 88 miliar. Penurunan tersebut disebabkan lesunya iklim investasi di kawasan industri Jababeka.
Sementara itu, perolehan laba bersih sama dengan periode tahun 2003, yakni sebesar Rp 6 miliar. Untuk itu, KIJA akan mengubah fokus usaha yang semula kawasan industri ke perumahan komersial dengan rasio 50:50. Perubahan orientasi dilakukan karena kawasan industri dinilai sudah kelebihan persediaan.
Selain itu, KIJA juga berencana membangun pusat bisnis, mal dan apartemen tepat di samping Menara Batavia, dengan perkiraan investasi sebesar Rp 800 miliar. Pengerjaan proyek diharapkan sudah dapat dimulai Oktober tahun ini. Proyek itu sendiri diperkirakan menggunakan lahan seluas dua hektar di wilayah Karet, Jakarta Pusat dengan pembiayaan akan diupayakan dari pinjaman bank.
Sementara itu, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa KIJA menyetujui penurunan nilai nominal saham seri A dari Rp 1.000 menjadi Rp 500 dan seri B menjadi Rp 75 dari Rp 150. Selain itu, disetujui pula menurunkan modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan menjadi Rp 1,3 triliun dari Rp 2,6 triliun. Penurunan disebabkan perseroan akan melakukan kuasi reorganisasi sehingga KIJA perlu menunjukkan nilai perusahaan tidak defisit lagi, karena pada tahun sebelumnya saldo laba KIJA masih negatif Rp 1,5 triliun.

Naik Signifikan
Saham-saham di sektor properti, tak terkecuali saham KIJA sejak empat hari perdagangan terakhir mengalami kenaikan cukup signifikan. Posisi tertinggi harga saham KIJA dicapai pada pada perdagangan awal pekan ini yang berada pada level Rp 110, naik Rp 10 dari pekan sebelumnya. Terakhir, saham KIJA menyentuh level Rp 110 pada tanggal 22 April 2004.
Menurut analis PT Eficorp Sekuritas, Prasti Rindrawati, kenaikan harga KIJA bisa jadi karena dukungan tingginya likuiditas dan volume yang besar. Hanya saja, ia menilai tren kenaikannya telah mulai memasuki titik jenuh yang membuat potensi terjadinya koreksi di saham ini besar.
Pertimbangan lain, saham ini pada perdagangan Senin (12/7) telah melampaui target resistance-nya di Rp level 100. Ditambah kondisi pasar yang kemungkinan masih akan sepi, ia melihat potensi penurunan di saham ini lebih besar.
Pendapat berbeda disampaikan Mustafa Kamil, analis Phillip Securities Indonesia yang melihat KIJA secara umum masih berada dalam tren menguat. terlebih atraktifnya pasar paska pemilihan presiden tahap pertama ikut memberi dukungan. Dari segi teknikal, tren menguat saham KIJA menurutnya telah terjadi sejak perdagangan 20 hari terakhir.
Kisaran saham sebelumnya, menurut Mustafa, berada antara support Rp 65 dan resistance Rp 95. Harga saham saat ini yang berada di level Rp 110 sedang berusaha menuju level tertinggi. ”Tampaknya harga saham sedang berusaha mencapai target harga sebelum stock split di Rp 150-an,” jelas dia.

Lumayan Bagus
Dari sisi fundamental, KIJA lumayan bagus dengan price to book value 0,88 kali dan itu relatif murah. Sedang price earning ratio (PER) KIJA dinilai cukup tinggi mencapai 35 kali. Dengan nilai penjualan sepanjang kuartal pertama 2004 hanya Rp 59 miliar, earning per share saham hanya Rp 2 saja, sementara nilai buku (book value) sebesar Rp 85.
Prasti mengaku, kesulitan untuk merekomendasi saham ini. Jika direkomendasi jual atau profit taking tampaknya masih sulit untuk mengambil gain akibat pergerakannya yang relatif stagnan, sehingga susah bagi investor untuk keluar. Sementara bagi Mustafa, untuk kisaran perdagangan yang baru, saham KIJA berada pada level support Rp 85 dan resistance Rp 110.
“Dengan mempertimbangkan tren saham yang masih menguat, sebenarnya investor bisa mengakumulasi saham ini. Namun Mustafa menegaskan, investor masih harus mendapat validasi dari kondisi fundamental saham dan sentimen yang berkembang di pasar.
(SH/danang jm)








Copyright © Sinar Harapan 2003

Saham Semen Gresik Konsolidasi

News, From the Media
Jumat, Januari 13, 2006

Saham Semen Gresik Konsolidasi

www.investorindonesia.com, Laporan, Jumat, 13 Januari 2006, 00:09 WIB

Saham PT Semen Gresik Tbk (SMGR) akan konsolidasi dalam jangka pendek, karena harga sudah naik tinggi. Namun, maraknya proyek infrastruktur berpotensi menopang kinerja perseroan, sehingga harga tetap menguat.

Rencana membangun pabrik baru untuk memenuhi permintaan semen akan berdampak positif pada saham semen tersebut, kata analis PT Aneka Arthanusa Sekurindo Teguh Ramadani kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (12/1).

Pada perdagangan kemarin, saham SMGR menguat Rp 450 ke level Rp 19.950. Volume transaksi saham berpindahtangan mencapai 1,18 juta lot saham senilai Rp 23,73 miliar, dengan frekuensi transaksi yang dibukukan 311 kali.

Menurut Teguh, berdasarkan kajian teknis, SMGR berpotensi konsolidasi sebelum melanjutkan penguatan. Saham ini sudah naik signifikan, jelasnya.

Dia mengakui, indikator teknis candle stick menunjukkan adanya peluang bagi saham Semen Gresik untuk menguat kembali dalam jangka pendek. Saham SMGR masih berada di area positif sejak awal pekan lalu, kata dia.

Lebih lanjut, Teguh mengatakan, secara fundamental kinerja produsen semen tersebut cukup menggembirakan. Laba bersih perseroan hingga 30 September 2005 mencapai Rp 706 miliar, atau sudah melewati perolehan Desember 2004 Rp 521 miliar. Tahun ini, laba diperkirakan masih positif seiring maraknya proyek-proyek infrastruktur, imbuhnya.

Ia mengatakan, earning per share (EPS) SMGR pada 2005 diprediksi meningkat positif seperti kinerja perseroan, yaitu dapat mencapai Rp 1.600-an per lembar saham. Sedangkan EPS tahun sebelumnya hanya terbukukan Rp 878. Apalagi, valuasi saham ini masih murah, karena price to earning ratio (PER) baru 11,27 kali dan price to book value (PBV) 2,8 kali, jelasnya.

Sementara itu, PER PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) sudah 16 kali dengan PBV 2,2 kali.

Analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil menilai, secara teknis saham Semen Gresik berpotensi terkoreksi untuk jangka pendek. Pola stalled yang mengisyaratkan adanya tekanan jual juga akan muncul. Apalagi, SMGR sudah naik tajam dengan volume yang lebih kecil dibanding perdagangan sebelumnya, tegasnya.

2006, Laba Rp 1 Triliun

Sementara itu, manajemen Semen Gresik pada 2006 menargetkan kenaikan laba bersih 10-15% menjadi Rp 1 triliun dibanding perolehan tahun sebelumnya. Pertumbuhan keuntungan itu didorong oleh kenaikan harga semen dan efisiensi internal. Sedangkan pada 2005, produsen semen itu optimistis mampu mencetak laba bersih sebesar Rp 800-900 miliar.

Sekretaris Perusahaan Semen Gresik Agung Wiharto mengungkapkan, kenaikan harga semen secara bertahap hingga mencapai 20% membuat perusahaan pada kuartal III/2005 mampu melampaui target laba bersih di awal tahun. Target laba bersih 2005 awalnya hanya sebesar Rp 675 miliar. Namun, di kuartal III/2005 kami sudah mencapai Rp 700 miliar, sehingga target direvisi menjadi Rp 800-900 miliar, ujarnya.

Selain kenaikan harga, lanjut dia, efisiensi produksi juga menyumbang kenaikan laba. Efisiensi yang dilakukan meliputi pemeliharaan dan penggunaan energi batubara untuk produksi. Menurut dia, penggunaan batubara yang mencapai 16-18% dari biaya produksi masih cukup efisien untuk industri semen.

Agung juga mengungkapkan, pada 2006, Semen Gresik menyiapkan dana sekitar Rp 700 miliar untuk belanja modal atau capital expenditure (capex). Dana tersebut akan digunakan untuk pembiayaan rutin dan pembangunan pabrik baru. Penambahan pabrik baru akan menambah kapasitas produksi sekitar 2,3-2,5 juta ton per tahun.

Selain dari capex, kekurangan biaya pembangunan pabrik akan ditutupi dengan dua alternatif pembiayaan, antara lain meminjam pada bank atau menerbitkan obligasi. Per 30 September 2005, Semen Gresik mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 5,47 triliun atau meningkat sekitar 21% dibanding periode sama 2004 Rp 4,51 triliun.

Volume penjualan perseroan tumbuh 5,6% menjadi 12,29 juta ton dari 11,64 juta ton, yang meliputi volume penjualan di pasar domestik 10,83 juta ton dari sebelumnya 10,03 juta ton atau meningkat sekitar 8,0%, serta volume ekspor 1,46 juta ton dari 1,61 juta ton.

Sejalan dengan pertumbuhan penjualan, laba bersih perusahaan semen terbesar di Indonesia itu meningkat 90,1% menjadi Rp 706,37 miliar dari Rp 369,96 miliar per triwulan III 2004.

Rekomendasi

Teguh merekomendasikan wait and see saham Semen Gresik untuk jangka pendek. Namun, untuk menengah maupun panjang, dia menyarankan buy on weakness. Support pertama saham SMGR Rp 19.500 dan kedua Rp 19.000. Sedangkan resistance pertama Rp 20.400 dan kedua Rp 20.800, jelasnya.c Mustafa menyarankan investor untuk ambil untung (take profit) SMGR untuk jangka pendek, sebab tekanan jual akan menyertai pergerakannya. Support pertama Rp 18.400 dan kedua Rp 17.950. Sedangkan resistance pertama pada Rp 20.250 dan kedua 21.400, ujarnya. (asp)

Tips SMGR

Tren

Jangka pendek: konsolidasi Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental

Per September 2005, laba bersih naik 90,1% jadi Rp 706,37 miliar

PER: 11,27 kali, PBV: 2,8 kali

Teknis

Pola stalled: akan terkoreksi

Candle stick: menguat kembali

Rekomendasi

Mustafa Kamil:

Jangka pendek: take profit

Support: pertama Rp 18.400, kedua Rp 17.950

Resistance: pertama Rp 20.250, kedua Rp 21.400

Teguh Ramadani:

Jangka pendek: wait and see

Jangka menengah-panjang: buy on weakness

Support: pertama Rp 19.500, kedua Rp 19.000

Resistance: pertama Rp 20.400, kedua Rp 20.800

Posted by : Tahmid Harnadi

Saham Timah Berpeluang Menguat

Rabu, 12 Oktober 2005, 00:05 WIB
Saham Timah Berpeluang Menguat

Laporan -

JAKARTA, investorindonesia.com

Secara teknis, saham PT Tambang Timah Tbk (TINS) berpeluang menguat untuk perdagangan jangka pendek. Saham sektor pertambangan tersebut masih menjanjikan untuk investasi.

"Valuasi saham Timah relatif murah dibanding emiten pertambangan lain," kata analis PT Ekokapital Sekuritas kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (11/10).

Pada perdagangan kemarin, saham Timah ditutup stagnan pada posisi Rp 1.710. Saham Timah ditransaksikan hanya 70 kali dengan volume transaksi sebesar 598.000 unit saham senilai Rp 1,01 miliar.

Menurut Aldo, fundamental saham Tambang Timah cukup menggembirakan. Price to earning ratio (PER) baru 4,46 kali dan price to book value (PBV) 0,57 kali. "Sedangkan PER ANTM (Aneka Tambang) 6 kali, dengan PBV 2 kali," ujarnya.

Dia mengatakan, kinerja perseroan juga cukup bagus, karena terus membukukan laba bersih. Pada 2003, laba bersih Timah mencapai Rp 76 miliar, sebelum meningkat menjadi Rp 178 miliar pada 2004. "Tahun ini, laba bersih perseroan diprediksi mencapai Rp 192 miliar, karena pada semester pertama sudah terbukukan Rp 96 miliar," jelasnya.

Aldo menambahkan, kinerja perseroan yang meningkat tersebut berdampak positif pada pertumbuhan earning per share (EPS) saham Timah tahun ini. "Pada akhir 2005, EPS perseroan diperkirakan mencapai Rp 436," kata Aldo.

Lebih lanjut Aldo menjelaskan, secara teknis saham Timah berpotensi menguat setelah sebelumnya bergerak mendatar. "Itu terlihat dari indikator relative strength index (RSI) yang sudah oversold," ujarnya.

Aldo menjelaskan, indikator Williams%R (W%R) juga menunjukkan arah serupa pada saham Timah dalam waktu dekat. "Indikator W%R memperlihatkan peluang berbalik arah menguat pada saham Timah," jelasnya.

Pendapat senada dikemukakan analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil. Saham Timah berpotensi uptrend, setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat kembali. "Saham ini selalu mengikuti pergerakan indeks," ujar Mustafa.

Mustafa menambahkan, penguatan saham TINS juga terbaca dari indikator RSI untuk 10 hingga 21 hari yang mulai memasuki area oversold. "Meskipun dari indikator stochastic oscillator mengindikasikan arah menurun," jelasnya.

Target Produksi

Sementara itu, manajemen Tambang Timah menyatakan, pihaknya tetap memproyeksikan produksi timah untuk tahun ini sebanyak 40.000 ton. Sekretaris Perusahaan Tambang Timah Prasetyo Budi Saksono kepada Investor Daily mengatakan, meskipun terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sejak awal Oktober lalu, target produksi perseroan tidak akan berubah. "Walaupun demikian, kenaikan harga BBM tersebut akan membuat biaya membengkak," jelasnya.

Namun, Prasetyo belum dapat menjelaskan hasil laporan keuangan perseroan hingga kuartal III tahun ini. Saat ini, laporan keuangan tersebut masih dalam proses audit dan belum dapat dipublikasikan. "Kita akan selenggarakan public expose pada 27 Oktober nanti dengan agenda antara lain membahas laporan keuangan kuartal III tahun ini," ujarnya.

Sebelumnya, selama enam bulan pertama 2005, penjualan bersih perseroan mencapai Rp 1,60 triliun atau meningkat 46,9% yoy dibanding periode sama 2004 sebesar Rp 1,09 triliun. Namun, peningkatan penjualan bersih perseroan juga diikuti kenaikan beban pokok penjualan yang membengkak dari Rp 758,53 miliar menjadi Rp 1,33 triliun, sehingga laba kotor melorot 19,7% yoy menjadi Rp 268,81 miliar dari sebelumnya Rp 334,81 miliar.

Bahkan, laba usaha Timah pada periode tersebut anjlok 34,% yoy menjadi Rp 147,25 miliar dari sebelumnya Rp 226,24 miliar pada semester pertama 2004. Namun, perusahaan tambang timah itu mampu menekan beban lain-lain dari Rp 83,25 miliar menjadi Rp 3,82 miliar, sehingga total beban lain-lain menyusut menjadi Rp 9,35 miliar dari Rp 78,66 miliar.

Sementara itu, menciutnya beban pajak penghasilan dari Rp 105,70 miliar menjadi Rp 64,28 miliar langsung mendongkrak posisi laba bersih Timah menjadi Rp 96,49 miliar atau meningkat 48,9% yoy dari sebelumnya Rp 64,79 miliar. Seiring dengan itu, laba bersih per saham perseroan juga meningkat menjadi Rp 192 dari Rp 129.

Rekomendasi

Aldo merekomendasikan hold saham Tambang Timah untuk perdagangan jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah dan panjang, dia menyarankan beli. "Support saham ini pada level Rp 1.670 dan resistance Rp 1.780," ujarnya.

Sementara itu, Mustafa merekomendasikan buy on weakness saham Timah untuk perdagangan jangka pendek. Kemudian untuka jangka menengah maupun panjang, dia merekomendasikan hold. "Support saham Timah di posisi Rp 1.650 dan resistance 1.770," jelasnya. (asp)

‘Terciprat Semburan Minyak Cepu’

www.kontan-online.com
No. 25 Tahun X, 27 Maret 2006
Saham
‘Terciprat Semburan Minyak Cepu’
Saham-saham yang berpeluang untung dari proyek Cepu
Tender pembangunan dan pengeboran Blok Cepu belum lagi mulai. Namun, pemain saham sudah bergerak memburu saham-saham yang diperkirakan bakal kecipratan rezeki Cepu. Mau ikutan?
Mesti Sinaga, Yohan Robiyantoro, Markus S., Harris Hadinata
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nada-nada sumbang langsung berkumandang begitu pemerintah menyerahkan pengelolaan Blok Cepu ke tangan ExxonMobil. Banyak yang kecewa berat, bahkan kesal, kok bisa-bisanya pemerintah menyerahkan pengelolaan ladang minyak yang memiliki kandungan 600 juta barel hingga 2 miliar barel itu ke tangan perusahaan Amerika. "Proyek Cepu ini adalah pengorbanan terbesar Indonesia untuk menarik investor asing," cetus Mustafa Kamil, analis Phillip Securities. Tapi, bursa saham punya kepentingannya sendiri. Alih-alih mengurusi soal nasionalisme yang terluka, para peternak duit-yang sebagian besar investor asing-malah sibuk menebak-nebak dan bergerilya memburu saham-saham perusahaan yang diperkirakan bakal ambil bagian dalam proyek Cepu. "Kita memang belum tahu seberapa besar proyek tersebut, tapi yang jelas akan cukup besar. Dia akan membawa keberuntungan bagi beberapa perusahaan yang terlibat di dalamnya," cetus Katarina Setiawan, Kepala Riset Kim Eng Securities. *Siapa yang bakal ketiban pulung rezeki Cepu?* Ingin ikutan menyedot rezeki Cepu dan tak mau kalah cepat dari pemain saham lain? Tentu Anda harus segera pula berburu saham-saham yang potensial. Saham Semen Gresik merupakan salah satu yang diperkirakan bakal ketiban pulung proyek Cepu. Lokasinya yang dekat dengan Cepu membuat Gresik berpeluang menjadi pemasok semen. Silakan simak analisis saham ini di KONTAN pekan lalu (edisi 20 Maret 2006: Membangun Untung dari Saham Semen). Pilihan lainnya adalah perusahaan kontraktor pelat merah, Adhi Karya (ADHI). "Pemerintah kan biasanya dapat jatah, dan Adhi mungkin saja kebagian proyek pembangunan jalan, irigasi, atau tata airnya," ujar Mustafa. Analisis saham ini juga sudah kami tulis dalam KONTAN edisi 13 Maret 2006 (Mencari-cari Peraih Rapor Biru). Di luar kedua saham ini, berikut beberapa saham lain yang menurut para analis paling layak diburu untuk mengantisipasi rezeki Cepu: *Apexindo (APEX) dan Medco Energi (MEDC)* Anak perusahaan Medco Energi (MEDC) ini bergerak di bidang jasa pengeboran minyak, baik di lepas pantai (off shore) maupun di daratan (onshore). Tak hanya bermain di Indonesia, Apexindo juga banyak menangani proyek pengeboran minyak di negara-negara lain. Maka, tak heran jika banyak orang memperkirakan emiten bersimbol APEX ini akan kebagian order jasa pengeboran dari Blok Cepu. Apalagi dari delapan unit onshore rigs miliknya, tahun ini Apex memang masih memiliki tiga unit onshore rigs yang belum digunakan alias idle. Ini memungkinkan Apex bisa ikutan dalam pengeboran proyek Cepu. "Kalau spesifikasi onshore rigs kami sesuai dengan kebutuhan mereka, tentu kami akan ikut tender," kata Ade Satari, Corporate Secretary Apexindo. Sebuah sumber yang dekat dengan Apexindo berkata, Apexindo hampir pasti kebagian proyek pengeboran Cepu. Sebab Apex sudah meneken nota kesepakatan alias memorandum of understanding (MOU) dengan PT Petrogas Wira Jatim. Ini adalah perpanjangan tangan badan usaha milik daerah (BUMD) Jawa Timur yang mendapat sebagian dari porsi 10% saham pengelolaan Blok Cepu. "Berdasarkan MoU itu, untuk pekerjaan proyek minyak di Jawa Timur, Apexindo akan ikut mengerjakannya," beber si sumber, "Jadi, Petrogas Wira punya akses, Apexindo punya expertise." Di luar harapan rezeki Cepu, pertengahan Maret lalu Apex memperoleh kontrak geothermal di Gunung Salak, Jawa Barat. Kontrak dari Chevron senilai US$ 22 juta dengan tarif lebih mahal sekitar 15% ini akan mengerek pendapatan Apex tahun ini. Prospek yang bagus inilah yang membuat para analis memperkirakan, harga saham Apex yang Senin siang 20 Maret lalu Rp 1.160 per saham berpeluang naik ke kisaran Rp 1.425-Rp 1.500 per saham. Tak hanya Apexindo, harga saham induknya Medco Energi juga berpeluang terus naik. Maklum, si emak menguasai 52% saham Apex, sehingga kinerja Apex akan terkonsolidasi dalam kinerjanya tahun ini. Menurut perkiraan perusahaan sekuritas Amerika, JP Morgan, harga saham Medco berpeluang naik menjadi Rp 4.650 per saham. Artinya, ada potensi kenaikan 12,72% dari harganya pada paruh pertama perdagangan Senin 20 Maret 2006 lalu. *Bakrie & Brothers (BNBR)* Kalau Apexindo diperkirakan bakal kebagian proyek pengeboran, Bakrie & Brothers diperkirakan bakal kebagian jatah memasok pipa proyek Cepu. Maklum BNBR adalah merupakan salah satu produsen pipa untuk proyek minyak dan gas bumi yang lumayan terkenal. Beberapa perusahaan besar tercatat sebagai pelanggannya, sebut saja CNOOC, Unocal, Caltex, Exspan, Pertamina, dan Perusahaan Gas Negara. Direktur Legal dan Corporate Secretary BNBR Juliandus Tobing mengatakan, manajemen BNBR belum pernah membahas soal pipa untuk Cepu. "Tapi, secara prinsip, kalau ada peluang di bisnis infrastruktur kami akan ikut," ujarnya. Selain dari Cepu, Bakrie berpeluang besar memenangi tender proyek-proyek infrastruktur. Sebab, perusahaan warisan Ahmad Bakrie ini merupakan salah satu perusahaan konstruksi yang lumayan besar. Menurut Fordyanto Widjaja, analis JP Morgan Securities Indonesia, BNBR tak hanya akan bisa bermain di infrastruktur minyak dan gas, melainkan juga dari sektor konstruksi dan sektor bahan bangunan. Maklum saja, BNBR pun terkenal sebagai salah satu produsen material bangunan besar di Indonesia, sehingga berpeluang pula memasok produknya untuk proyek infrastruktur. Makanya, Fordyanto menilai: saham BNBR adalah pilihan terbaik bagi investor yang hendak ikut mencicipi rezeki proyek infrastruktur. Di luar prospek Cepu dan infrastruktur, BNBR memiliki tiga bisnis utama yang saat ini sama-sama memberikan keuntungan. Pertama, bisnis infrastruktur yang mencakup bisnis kontraktor, pipa, material bangunan, dan komponen otomotif. Tahun lalu, dari total pendapatannya yang diperkirakan sebesar Rp 2,7 triliun, sektor infrastruktur ini menyumbang Rp 1,48 triliun. Kedua, bisnis telekomunikasi lewat Bakrie Telekom (BTEL) dan Bakrie Communication Services. Tahun lalu, diperkirakan BTEL menyumbang Rp 362 miliar terhadap pendapatan BNBR. Ketiga, perkebunan, lewat anaknya Bakrie Sumatera Plantation (UNSP). Tahun 2005 lalu, perkebunan sawit dan karet ini diperkirakan menyumbang Rp 891,2 miliar bagi pendapatan BNBR. Tahun ini, UNSP menargetkan pendapatannya akan naik sekitar 20%. Tingginya harga CPO dan harga karet membuat UNSP berpeluang besar mencapai target ini. Dengan prospek secerah itu, para analis memperkirakan harga saham BNBR yang Senin siang 20 Maret lalu bertengger di Rp 175 per saham bakal terus naik. "Target harga kami Rp 225 per saham," ramal Edwin Sebayang, analis Evergreen Kapital. Namun, hati-hati. Saham grup Bakrie ini mengandung banyak risiko pula. Sebut saja harga sahamnya yang sering kali bergerak aneh. "Saat kinerjanya buruk, harganya bisa naik. Eh, saat kinerjanya bagus, harganya malah saja," cetus Martin Marpaung, analis Bali Securities. Selain itu, ada risiko proyek-proyek infrastruktur yang tadi diharap bakal mendongkrak kinerjanya tersebut bisa saja tertunda. Dus, bila BNBR mengerjakan banyak proyek besar pada waktu bersamaan, kondisi keuangannya bisa mengetat akibat terbatasnya modal dan seretnya likuiditas. Risiko lain, BNBR masih sangat bergantung pada sedikit pemasok baja. Ini membuat posisi tawarnya lebih lemah. Selain itu, jika ada apa-apa pada pemasoknya, produksi BNBR juga bakal terganggu. Yang tak kalah penting, BNBR sangat rentan terhadap perubahan kurs. Maklum, sebagian besar aset, utang, dan penghasilannya dihitung dalam mata uang dolar. www.kontan-online.com

IHSG Berpeluang Menguat

IHSG Berpeluang Menguat
Detik-com, 26 April 2006

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada perdagangan Rabu (26/4) diperkirakan menguat, melanjutkan kenaikan pada Selasa (25/4) sebesar 15,91 poin ke level 1.458,78. Menurut analis, besarnya minat beli investor dan sentimen bursa regional akan menjadi motor pergerakan indeks.

Analis Phillip Securities Mustafa Kamil mengemukakan, penguatan indeks masih bisa berlanjut ditopang oleh volume transaksi yang semakin besar. “Posisi beli yang masih kuat berpeluang mengangkat indeks hingga 10 poin hari ini,”jelasnya.

Dia menerangkan, setelah terjadi koreksi sehat, indeks akan kembali berayun pada rentang 1.460 hingga 1.470. Indeks pada hari ini diperkirakan bergerak pada area support pertama 1.450 dan kedua 1.435. Sementara resistance berada di posisi pertama 1.466 dan kedua 1.482.

Menurut Mustafa, tingginya harga minyak dunia akan berpengaruh dalam jangka panjang dan mendorong pergerakan harga saham sektor penyedia substitusi energi seperti biodisel. Dia merekomendasikan pembelian saham lapis kedua yang masih prospektif seperti UNSP. Selain itu, saham sektor telekomunikasi BTEL yang ditunjang pertumbuhan yang baik dan ISAT sebagai peralihan dari saham Telkom yang sudah jenuh beli (over bought).

Sementara itu, Arief Budisatria, analis Danasakti Sekuritas menilai, pergerakan indeks akan dipengaruhi faktor regional. Pasar dunia, lanjut dia, masih menunggu pengumuman pergerakan suku bunga The Fed. “Bila suku bunga The Fed kembali naik, pasar global bisa crash,” jelasnya.

Pada perdagangan hari ini, dia memperkirakan indeks akan bergerak di kisaran support dan resistance 1.437 dan 1.460. Pergerakan IHSG menurut Arief akan ditopang saham lapis kedua yang berpotensi naik secara teknikal seperti ISAT, BBCA, dan BMRI. Selain itu, saham consumer goods yang dinilai akan bertahan di tengah inflasi tinggi seperti INDF, MYOR, dan UNVR.

Wednesday, December 13, 2006

Saham Semen Gresik Berpotensi Menguat

06/10/2006 02:13:25 WIB

JAKARTA, investordaily
Saham PT Semen Gresik Tbk (SMGR) diperkirakan menguat kembali dalam perdagangan jangka pendek. Faktor fundamental dan teknis ikut mendorong pergerakan SMGR ke area positif.

“Saham ini layak dikoleksi, sebab secara fundamental maupun teknis masih menjanjikan,” kata analis PT Mega Capital Indonesia Ikhsan Binarto kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (5/10).

Pada perdagangan kemarin, SMGR terangkat Rp 450 ke level Rp 27.300. Volume saham berpindah tangan mencapai 181.000 saham senilai Rp 4,93 miliar, dengan frekuensi transaksi 53 kali.

Menurut Ikhsan, secara fundamental kinerja perseroan sektor semen tersebut cukup menjanjikan. Pada semester I 2006, pendapatan perseroan naik sebesar 20% dibanding periode sama tahun lalu. Laba bersih yang dibukukan di atas Rp 600 miliar, sedangkan volume penjualan semen pada semester I tahun ini mencapai 8 juta ton, tidak berbeda jauh dengan periode sama tahun lalu.

“Tahun ini, perusahaan menargetkan kenaikan laba bersih 10-20% dibanding 2005, karena ada efisiensi dan sinergi dengan anak perusahaan, selain kenaikan harga jual,” jelasnya.

Dia menambahkan, saat ini perseroan merupakan produsen semen terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 17,2 juta ton per tahun, penjualan 16,4 juta ton, dan menguasai 45% pangsa pasar semen di dalam negeri. “Earning per share (EPS) SMGR tahun ini diprediksi meningkat menjadi Rp 2.237 per saham, dari sebelumnya Rp 1.724 terdorong perbaikan kinerja perseroan,” kata dia. Valuasi saham ini juga murah, price to earning ratio (PER) 12,2 kali dan price to book value (PBV) 3,33 kali. Sedangkan, PER PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sudah 26,34 kali dan PBV 3,12 kali.

Lebih lanjut Ikhsan mengatakan, berdasarkan analisis teknis, SMGR masih berpeluang menguat kembali. Konfirmasi tersebut terlihat dari indikator relative strength index (RSI) 14 hari yang masih terdapat ruang untuk naik. “RSI tujuh hari juga menunjukkan pergerakan SMGR masih berada di teritori positif,” jelasnya.

Sementara itu, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil menilai, harga SMGR diperkirakan kembali bergerak di area negatif seperti pada penutupan perdagangan kemarin. Konfirmasi tersebut terbaca dari indikator teknis, yaitu moving average convergence divergence (MACD) dan stochastic oscillator. “Kedua indikator itu menunjukkan posisi saham Semen Gresik sudah jenuh beli (overbought),” ujarnya.

Dia mengakui, apabila harga SMGR dalam waktu dekat mampu bertahan pada level support Rp 26.250 atau strong support Rp 25.000, SMGR dapat menuju Rp 30.000.

Hingga akhir Juni 2006, perseroan membukukan laba bersih Rp 663 miliar atau naik 106,5% dibanding periode sama tahun lalu Rp 321,21 miliar. Sedangkan pendapatan Semen Gresik tercatat sebesar Rp 4 triliun, atau meningkat dibanding periode sama 2005 sebesar Rp 3,27 triliun. Kenaikan pendapatan perseroan disebabkan penghematan dari sisi distribusi dan menurunnya biaya energi. Apalagi, produksi semen perseroan saat ini menggunakan bahan bakar batu bara.

Proyeksi Laba
Sementara itu, PT Semen Gresik Tbk memproyeksikan laba bersih 2006 naik sebesar 20% dibanding tahun sebelumnya Rp 1,02 triliun. Target tersebut didasarkan asumsi perbaikan pasar semen, seiring dengan mulai berjalannya proyek-proyek infrastruktur.

“Kami akan mempertahankan pangsa pasar sekitar 47% hingga akhir tahun ini, walaupun akan banyak pesaing di industri ini,” jelas Dwi Sutjipto, dirut Semen Gresik di Jakarta, belum lama ini.

Hingga Agustus 2006, penjualan Semen Gresik di pasar domestik mencapai 9,56 juta ton atau meningkat 1,7% dibanding periode sama 2005 sebesar 9,4 juta ton. Namun, penjualan ekspor hingga Agustus 2006 turun 27,5% dari 1,26 juta ton di tahun 2005 menjadi 916 ribu ton. Total penjualan semen perseroan hingga Agustus 2006 mencapai 10,48 juta ton atau turun 1,7% dibanding periode sama 2005 yang mencapai 10,66 juta ton.

Sementara itu, konsumsi semen nasional (domestik) hingga Agustus 2006 mencapai 20,41 juta ton atau turun 2,7% dibanding periode sama 2005. Konsumsi semen di Pulau Jawa turun paling besar (7,8%) dari 13,29 juta ton pada 2005 menjadi 12,25 juta ton. Sementara itu, konsumsi semen di luar Pulau Jawa meningkat cukup signifikan, antara lain terjadi di Pulau Sumatera (7,1%), Kalimantan (1,7%), Sulawesi (9,2%), Nusa Tenggara (1,1%), serta Maluku dan Papua (11,1%).

Rekomendasi
Ikhsan merekomendasikan beli saham Semen Gresik untuk jangka pendek, menengah maupun panjang, karena prospek ke depan masih menjanjikan. “Support saham ini di level Rp 25.200 dan resistance pada Rp 28.000, dengan target harga Rp 32.000,” jelasnya. Sedangkan Mustafa menyarankan investor untuk wait and see SMGR dalam jangka pendek, karena masih dalam tren bearish. Namun, untuk jangka menengah dan panjang, dia merekomendasikan buy on weakness. “Support SMGR di level Rp 26.250/25.000 dan resistance Rp 28.700/30.000,” ujarnya. (asp)


Tips SMGR

Tren
Jangka pendek: menguat
Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental
Semester I 2006, laba bersih Rp 663,45 miliar
PER: 12,2 kali, PBV: 3,33 kali

Teknis
RSI 14 hari: menguat kembali
Stochastic oscillator: cenderung melemah
MACD: masih bearish

Rekomendasi
Ikhsan Binarto:
Jangka pendek: beli
Jangka menengah-panjang: beli
Support: Rp 25.200, resistance: Rp 28.000

Mustafa Kamil:
Jangka pendek: wait and see
Jangka menengah-panjang: buy on weakness
Support: Rp 26.250/25.000
resistance: Rp 28.700/30.000

Saham Ramayana Cenderung Menguat

21/09/2006 02:00:08 WIB

JAKARTA, investordaily
Momentum perayaan Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, diperkirakan dapat menjadi sentimen positif bagi saham PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Faktor teknis dan fundamental juga ikut menjadi penopang penguatan kembali RALS.

“Saham ini berpotensi menguat kembali,” ujar analis PT Danasakti Securities Arief Budisatria kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (20/9).

Pada perdagangan kemarin, RALS ditutup menguat Rp 10 menjadi Rp 910. Saham perusahaan ritel itu ditransaksikan 265 kali, dengan volume transaksi sebanyak 12,04 juta saham senilai Rp 11,09 miliar.

Menurut Arief, saham Ramayana cenderung menguat, karena siklus menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru selalu terjadi kenaikan harga saham. “Para pelaku pasar biasanya mengantisipasi kenaikan penjualan perseroan pada hari raya,” jelasnya.

Dia mengatakan, dari analisis teknis, indikator moving average convergence divergence (MACD) turut memperlihatkan kecenderungan menguat kembali pada RALS dalam jangka pendek, karena arahnya masih bullish. “Tapi, dalam waktu dekat, RALS bisa saja konsolidasi, sebab level Rp 950 belum mampu ditembus,” ujarnya.

Arief menambahkan, aksi ambil untung (profit taking) pemodal pada saham Ramayana bisa juga terjadi pada jangka pendek, karena kenaikan harganya cukup cepat. “Jadi, kalau menguat, perlu diwaspadai adanya aksi profit taking,” lanjut dia.

Dia mengakui, valuasi saham Ramayana mahal dibanding saham sejenis seperti PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), karena price to earning ratio (PER) RALS 47,89 kali dan price to book value (PBV) 3,81 kali. Sedangkan PER MPPA 47,78 kali dengan PBV 1,15 kali.

Lebih lanjut Arief menjelaskan, meski pada semester I 2006 laba bersih perseroan hanya Rp 66,73 miliar, sedangkan hingga akhir 2005 mencapai Rp 302 miliar, earning per share (EPS) tahun ini diperkirakan sama dengan EPS 2005 yang tercatat Rp 43.

Sementara itu, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, RALS berpeluang terkoreksi untuk jangka pendek, karena dari indikator candlestick sudah membentuk shotting star. “Sepertinya harga saham sedang bergerak menuju batas bawah (support) di level Rp 860,” ujarnya.

Dia menambahkan, indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) 21 hari turut menunjukkan peluang pelemahan pada RALS dalam waktu dekat, karena saat ini sudah berada di area overbought. “Namun, dari indikator MACD masih ada potensi penguatan kembali. Jadi, kalau pun terkoreksi kisarannya relatif terbatas,” tegas Mustafa.

Investasi Rp 400 Miliar

Sementara itu, Ramayana menganggarkan investasi Rp 300-400 miliar pada 2007 guna membangun 10-15 gerai baru yang akan difokuskan di luar Jawa. Sedangkan tahun ini, perseroan membuka enam gerai baru senilai Rp 25 miliar per gerai atau total Rp 150 miliar.

“Kami berencana membuka lebih banyak gerai tahun depan dengan harapan kondisi ekonomi Indonesia lebih baik, sehingga dapat membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan daya beli masyarakat,” kata Komisaris Ramayana Koh Boon Kim kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Seluruh dana investasi bersumber dari kas internal perseroan, tanpa menambah utang baru. Posisi kas dan setara kas internal Ramayana saat ini mencapai Rp 862,7 miliar.

Pada 2007, Ramayana menargetkan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 13-14% menjadi Rp 5,4 triliun dari target penjualan bersih 2006 Rp 4,85 triliun. Laba operasi diproyeksikan tumbuh 8-8,5%.

Target tersebut ditopang oleh rencana pembukaan 10-15 gerai baru dengan luas mencapai 12-15% dari total luas toko tahun 2006 dan harapan peningkatan daya beli masyarakat.

Sedangkan hingga akhir tahun ini, perseroan menargetkan penjualan bersih naik 12,8% menjadi Rp 4,85 triliun dari perolehan 2005 Rp 4,3 triliun. Hingga semester I 2006, angka penjualan perseroan baru mencapai 36,1% dari target penjualan akhir tahun ini. Sisanya diharapkan dapat terpenuhi pada paruh kedua.

“Hal itu disebabkan bisnis kami yang musiman. Kontribusi semester II biasanya lebih besar karena adanya masa masuk sekolah dan hari raya keagamaan, seperti Lebaran," papar Direktur Keuangan Ramayana Setiasa Kusuma.

Rekomendasi

Arief merekomendasikan sell on strength saham Ramayana untuk jangka pendek. Sedangkan dalam jangka menengah maupun panjang, dia menyarankan beli. “Support RALS Rp 890 dan resistance di level Rp 950,” ujar dia. Sedangkan Mustafa merekomendasikan buy on weakness RALS untuk jangka pendek dan beli pada jangka menengah maupun panjang, karena kinerja perseroan yang diperkirakan membaik seiring tumbuhnya daya beli masyarakat. “Support saham ini di level Rp 860/830 dan resistance pada Rp 950,” kata dia. (asp)


Tips RALS

Tren
Jangka pendek: cenderung menguat
Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental
Akhir 2006, penjualan bersih diperkirakan naik 12,8% jadi Rp 4,85 triliun
PER: 47,89 kali, PBV: 3,81 kali

Teknis
MACD: masih bullish
RSI: overbought
Candlestick: berpotensi terkoreksi

Rekomendasi
Arief Budisatria:
Jangka pendek: sell on strength
Menengah-panjang: beli
Support: Rp 890, resistance: Rp 950

Mustafa Kamil:
Jangka pendek: buy on weakness
Menengah-panjang: buy
Support: pertama Rp 860/830, resistance: Rp 950

Penguatan Saham BCA Berlanjut

30/08/2006 02:17:59 WIB

JAKARTA, investordaily
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diperkirakan melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Potensi penguatan BBCA akan ditopang faktor teknis maupun fundamental.

“Saham ini layak dikoleksi, karena harganya akan kembali terangkat,” kata pengamat dan praktisi pasar modal Robin Setiawan kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (29/8).

Pada perdagangan kemarin, BBCA stagnan di posisi Rp 4.475. Volume saham berpindah tangan mencapai 18.528 lot senilai Rp 41,49 miliar. Sedangkan frekuensi transaksi tercatat sebanyak 269 kali.

Menurut Robin, dari analisis teknis harian maupun mingguan, saham Bank Central Asia berpotensi menguat kembali untuk jangka pendek. Konfirmasi tersebut terbaca dari indikator relative strength index (RSI) lima dan 10 hari. “Volume transaksi yang cenderung meningkat dalam satu dua hari terakhir diperkirakan turut menjadi sentimen positif lain yang mendukung penguatan BBCA,” ujarnya.

Robin mengatakan, faktor fundamental turut mendukung peluang penguatan BBCA dalam jangka pendek. Apalagi, valuasi saham sektor perbankan itu relatif murah dibanding emiten sejenis seperti PT Bank Danamon Tbk (BDMN) yang memiliki price to earning ratio (PER) 21,1 kali dan price to book value (PBV) 2,9 kali. Sedangkan PER BBCA 13,9 kali dan PBV tercatat 3,2 kali. “Itu berdasarkan laporan keuangan per kuartal I 2006,” tegasnya.

Dia menambahkan, laba bersih emiten yang menjadi primadona pemodal itu diperkirakan meningkat menjadi Rp 4 triliun tahun ini, dibanding tahun sebelumnya yang terbukukan Rp 3,6 triliun. Pada semester I 2006, laba bersih BCA mencapai Rp 2 triliun.

Proyeksi peningkatan laba bersih BCA itu, kata Robin, akan diikuti perolehan earning per share (EPS) yang diprediksi mencapai Rp 321 per saham, dibanding tahun sebelumnya Rp 292. “Hal itu terpicu sentimen positif rencana penurunan suku bunga kredit, yang akan berdampak terhadap net profit margin perseroan,” jelasnya.

Di tempat terpisah, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, BBCA menguat sesaat dan sempat menyentuh level tertinggi Rp 4.450 . Secara teknis harian, pola candle shooting star serta sinyal jual stochastic oscillator mengondisikan akan adanya tekanan jual menjelang perdagangan selanjutnya. “Walaupun secara teknis mingguan, hal ini masih menyisakan kekuatan untuk naik kembali ke batas Rp 4.800,” jelasnya.

Mustafa mengatakan, bila melihat kondisi tersebut, ada kemungkinan bagi pelaku pasar untuk menunggu dan membeli saham Bank Central Asia di saat mengalami pelemahan, dengan support Rp 4.300 serta yang terkuat pada Rp 4.150. “Sedangkan resistance pada level Rp 4.500 dan selanjutnya pada target Rp 4.800,” tambah dia.

Target Laba
Sementara itu, Bank Central Asia menargetkan perolehan laba pada semester II 2006 dapat dipertahankan di kisaran Rp 2 triliun, dengan penyaluran kredit baru sebesar Rp 4 triliun, mencakup kredit korporasi, consumer, dan UKM. “Kami menjaga performance profit secara net di kisaran Rp 2 triliun, dan berharap pada semester II bisa dipertahankan,” kata Yahya Setiaatmadja, wakil direktur utama BCA kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Hingga semester I 2006, BCA menyalurkan kredit sebesar Rp 52,87 triliun dengan komposisi kredit korporasi sebesar Rp 20 triliun, antara lain kredit bagi perkebunan kelapa sawit dan karet. Dana pihak ketiga (DPK) yang mampu dihimpun mencapai Rp 134,85 triliun dengan tingkat loan to deposit ratio (LDR) sebesar 39%. Laba tahun berjalan mencapai Rp 2,04 triliun. Sedangkan ratio kredit bermasalah (NPL) cukup kecil sekitar 1,6%.

“Kami akan sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Sebab kalau dipaksakan bisa berdampak pada rasio kredit bermasalah,” ujar Yahya.

Beberapa kredit korporasi yang sedang diproses BCA antara lain untuk PT PP London Sumatra Tbk senilai US$ 150 juta dengan tingkat bunga 2,52% di atas Singapore Inter Bank Offered Rate (SIBOR) dan kredit bagi pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi sebesar Rp 1,3 triliun. “Penandatanganan proyek jalan tol Cinere kami usahakan sebelum akhir tahun ini, “ kata Yahya.

Rekomendasi
Robin merekomendasikan beli BBCA untuk jangka pendek dan menengah. Sedangkan untuk jangka panjang, dia menyarankan hold bagi yang sudah memiliki saham BCA. “Support saham ini di posisi Rp 4.350 dan resistance pada level Rp 4.700,” ujarnya. Sedangkan Mustafa cenderung menyarankan pemodal untuk wait and see saham Bank Central Asia, serta membeli pada saat terkoreksi (buy on weakness). Support pertama pada posisi Rp 4.300 serta selanjutnya Rp 4.150. “Sedangkan resistance pada level Rp 4.500 dan selanjutnya Rp 4.800,” tambah dia. (asp)

Tips BBCA

Tren
Jangka pendek: menguat kembali
Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental
Semester I 2006, laba Rp 2 triliun
PER: 13,9 kali, PBV: 3,2 kali

Teknis
RSI: berpeluang menguat
Stochastic oscillator: berpeluang tertekan
Candle shooting star : sinyal melemah

Rekomendasi
Robin Setiawan:
Jangka pendek-menengah: beli
Jangka panjang: hold
Support:Rp 4.350, resistance: Rp 4.700

Mustafa Kamil:
Jangka pendek: buy on weakness
Jangka menengah-panjang: buy
Support: Rp 4.300/4.150, resistance: Rp 4.500/4.800

Faktor Fundamental Angkat Saham Citra Marga

13/09/2006 01:49:24 WIB

JAKARTA, investordaily
Isu fundamental yang positif diperkirakan dapat mengangkat kembali saham PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) dalam jangka pendek. Meskipun dari sisi teknis, CMNP sudah menunjukkan posisi jenuh beli (overbought).

“Valuasi saham ini juga masih murah,” kata analis PT Meridian Capital Indonesia Muhammad Habdi kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (12/9).

Pada perdagangan kemarin, CMNP ditutup menguat Rp 40 di posisi Rp 730. Saham emiten di sektor infrastruktur tersebut ditransaksikan 414 kali, dengan volume transaksi sebanyak 19,46 saham senilai Rp 13,80 miliar.

Menurut Habdi, isu fundamental yang positif seperti maraknya proyek infrastruktur pemerintah, khususnya jalan tol, diperkirakan menjadi sentimen positif bagi pergerakan saham Citra Marga dalam waktu dekat. “Selain itu, rencana initial public offering (IPO) Jasa Marga diperkirakan turut mengangkat CMNP,” ujar dia.

Dia mengatakan, secara fundamental saham Citra Marga cukup menjanjikan untuk dikoleksi, karena kinerja perseroan tahun ini diperkirakan meningkat dibanding tahun lalu. Pada semester I 2006, laba bersih perseroan mencapai Rp 54,43 miliar, sedangkan per Desember 2005 tercatat Rp 81 miliar. “Laba bersih perseroan hingga akhir 2006 bisa mencapai Rp 108,66 miliar,” jelas Habdi.

Peningkatan kinerja perseroan tersebut diperkirakan diikuti pertumbuhan earning per share (EPS) menjadi Rp 54 per saham atau meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 41 per saham. “Valuasi CMNP masih murah dibanding saham Adhi Karya (ADHI), karena price to earning ratio (PER) mencapai 15,52 kali dan price to book value (PBV) 1,2 kali. Sedangkan PER ADHI sudah 193,33 kali dengan PBV 3,01 kali,” ujarnya.

Lebih lanjut Habdi mengatakan, berdasarkan analisis teknis, saham Citra Marga berpotensi terkoreksi dalam jangka pendek, setelah menguat pada perdagangan kemarin. Indikator relative strength index (RSI) dan Williams%R (W%R) sudah mengindikasikan jenuh beli.

Sementara itu, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, secara teknis saham Citra Marga masih bergerak ke area positif, karena dari indikator candle stick menunjukkan pola engulfing bull dan didukung volume transaksi yang meningkat. “Jadi, kecenderungan menguat masih cukup kuat, setelah bergerak mendatar (sideways) di kisaran Rp 650-700,” jelasnya.

Dia menambahkan, untuk jangka pendek, bila level resistance Rp 730 yang telah tertembus kemarin berubah menjadi support, sedangkan volume transaksi meningkat, target harga CMNP Rp 840 diperkirakan tercapai.

Target Laba

Sementara itu, Citra Marga Nusaphala Persada menargetkan laba bersih 2006 sebesar Rp 106 miliar, atau naik 30,86% dibanding 2005 Rp 81,02 miliar. Guna mencapai target tersebut, perusahaan pengelola jalan tol tersebut menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 139 miliar.

Direktur Utama Citra Marga Daddy Hariadi mengatakan, peningkatan laba bersih secara signifikan disebabkan oleh dua faktor. Pertama, perseroan menikmati kenaikan tarif tol sebesar 15%-16% atau rata-rata Rp 500 per ruas tol secara penuh tahun ini. Kedua, efisiensi di semua lini usaha, terutama pada proyek-proyek yang dijalankan tahun ini. “Kami optimistis mampu mencapai target laba bersih Rp 106 miliar tahun ini,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Daddy, perseroan sebenarnya telah menikmati tambahan pendapatan dari kenaikan tarif tol sejak Agustus 2005. Namun, keuntungan tersebut tidak mampu mendongkrak laba bersih tahun lalu menyusul meningkatnya inflasi tahunan hingga lebih dari 17%.

Kondisi ini menyebabkan trafik kendaraan yang melalui jalan tol berkurang hingga 2%. Akibatnya, laba bersih Citra Marga turun 6,3% dari Rp 86,51 miliar pada tahun 2004 menjadi Rp 81,02 miliar.

Per 30 Juni 2006, laba bersih perseroan meningkat sekitar 58,69% menjadi Rp 54,43 miliar dibanding periode sama 2005 yang mencapai Rp 34,29 miliar. Peningkatan laba bersih itu tidak lepas dari membaiknya kinerja perusahaan operator jalan tol tersebut. Pendapatan usaha perseroan selama enam bulan tahun ini meningkat sekitar 11,96% menjadi Rp 231,69 miliar dari sebelumnya Rp 206,95 miliar.

Kendati demikian, beban usaha yang harus ditanggung mencapai Rp 130,77 miliar atau lebih tinggi dari tahun lalu sebesar Rp 130,39 miliar. Meski pos laba usaha naik menjadi Rp 102,41 miliar dari Rp 77,26 miliar. Pada periode tersebut, laba bersih per saham naik menjadi Rp 27,22 dari Rp 17,14 pada periode sama 2005.

Rekomendasi

Habdi merekomendasikan hold CMNP untuk jangka pendek. Sedangkan dalam jangka menengah dan panjang, dia menyarankan beli. “Support CMNP di posisi Rp 710 dan resistance pada level Rp 760,” ujarnya. Mustafa merekomendasikan trading buy CMNP untuk jangka pendek. Namun, untuk jangka menengah maupun panjang, dia tetap menyarankan beli. “Support saham ini Rp 670 dan resistance di posisi Rp 730/840,” ujar dia. (asp)


Tips CMNP

Tren
Jangka pendek: menguat
Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental
Semester I 2006, laba bersih naik 58,69% jadi Rp 54,43 miliar
PER: 15,52 kali, PBV: 1,2 kali

Teknis
RSI: overbought
W%R: jenuh beli
Candle stick: cenderung menguat

Rekomendasi
M Habdi:
Jangka pendek: hold
Menengah-panjang: buy
Support: Rp 710, resistance: Rp 760

Mustafa Kamil:
Jangka pendek: trading buy
Menengah-panjang: beli
Support: Rp 670, resistance: Rp 730/Rp 840

Saham Ramayana Cenderung Menguat

21/09/2006 02:00:08 WIB

JAKARTA, investordaily
Momentum perayaan Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, diperkirakan dapat menjadi sentimen positif bagi saham PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Faktor teknis dan fundamental juga ikut menjadi penopang penguatan kembali RALS.

“Saham ini berpotensi menguat kembali,” ujar analis PT Danasakti Securities Arief Budisatria kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (20/9).

Pada perdagangan kemarin, RALS ditutup menguat Rp 10 menjadi Rp 910. Saham perusahaan ritel itu ditransaksikan 265 kali, dengan volume transaksi sebanyak 12,04 juta saham senilai Rp 11,09 miliar.

Menurut Arief, saham Ramayana cenderung menguat, karena siklus menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru selalu terjadi kenaikan harga saham. “Para pelaku pasar biasanya mengantisipasi kenaikan penjualan perseroan pada hari raya,” jelasnya.

Dia mengatakan, dari analisis teknis, indikator moving average convergence divergence (MACD) turut memperlihatkan kecenderungan menguat kembali pada RALS dalam jangka pendek, karena arahnya masih bullish. “Tapi, dalam waktu dekat, RALS bisa saja konsolidasi, sebab level Rp 950 belum mampu ditembus,” ujarnya.

Arief menambahkan, aksi ambil untung (profit taking) pemodal pada saham Ramayana bisa juga terjadi pada jangka pendek, karena kenaikan harganya cukup cepat. “Jadi, kalau menguat, perlu diwaspadai adanya aksi profit taking,” lanjut dia.

Dia mengakui, valuasi saham Ramayana mahal dibanding saham sejenis seperti PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), karena price to earning ratio (PER) RALS 47,89 kali dan price to book value (PBV) 3,81 kali. Sedangkan PER MPPA 47,78 kali dengan PBV 1,15 kali.

Lebih lanjut Arief menjelaskan, meski pada semester I 2006 laba bersih perseroan hanya Rp 66,73 miliar, sedangkan hingga akhir 2005 mencapai Rp 302 miliar, earning per share (EPS) tahun ini diperkirakan sama dengan EPS 2005 yang tercatat Rp 43.

Sementara itu, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, RALS berpeluang terkoreksi untuk jangka pendek, karena dari indikator candlestick sudah membentuk shotting star. “Sepertinya harga saham sedang bergerak menuju batas bawah (support) di level Rp 860,” ujarnya.

Dia menambahkan, indikator teknis lain seperti relative strength index (RSI) 21 hari turut menunjukkan peluang pelemahan pada RALS dalam waktu dekat, karena saat ini sudah berada di area overbought. “Namun, dari indikator MACD masih ada potensi penguatan kembali. Jadi, kalau pun terkoreksi kisarannya relatif terbatas,” tegas Mustafa.

Investasi Rp 400 Miliar

Sementara itu, Ramayana menganggarkan investasi Rp 300-400 miliar pada 2007 guna membangun 10-15 gerai baru yang akan difokuskan di luar Jawa. Sedangkan tahun ini, perseroan membuka enam gerai baru senilai Rp 25 miliar per gerai atau total Rp 150 miliar.

“Kami berencana membuka lebih banyak gerai tahun depan dengan harapan kondisi ekonomi Indonesia lebih baik, sehingga dapat membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan daya beli masyarakat,” kata Komisaris Ramayana Koh Boon Kim kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Seluruh dana investasi bersumber dari kas internal perseroan, tanpa menambah utang baru. Posisi kas dan setara kas internal Ramayana saat ini mencapai Rp 862,7 miliar.

Pada 2007, Ramayana menargetkan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 13-14% menjadi Rp 5,4 triliun dari target penjualan bersih 2006 Rp 4,85 triliun. Laba operasi diproyeksikan tumbuh 8-8,5%.

Target tersebut ditopang oleh rencana pembukaan 10-15 gerai baru dengan luas mencapai 12-15% dari total luas toko tahun 2006 dan harapan peningkatan daya beli masyarakat.

Sedangkan hingga akhir tahun ini, perseroan menargetkan penjualan bersih naik 12,8% menjadi Rp 4,85 triliun dari perolehan 2005 Rp 4,3 triliun. Hingga semester I 2006, angka penjualan perseroan baru mencapai 36,1% dari target penjualan akhir tahun ini. Sisanya diharapkan dapat terpenuhi pada paruh kedua.

“Hal itu disebabkan bisnis kami yang musiman. Kontribusi semester II biasanya lebih besar karena adanya masa masuk sekolah dan hari raya keagamaan, seperti Lebaran," papar Direktur Keuangan Ramayana Setiasa Kusuma.

Rekomendasi

Arief merekomendasikan sell on strength saham Ramayana untuk jangka pendek. Sedangkan dalam jangka menengah maupun panjang, dia menyarankan beli. “Support RALS Rp 890 dan resistance di level Rp 950,” ujar dia. Sedangkan Mustafa merekomendasikan buy on weakness RALS untuk jangka pendek dan beli pada jangka menengah maupun panjang, karena kinerja perseroan yang diperkirakan membaik seiring tumbuhnya daya beli masyarakat. “Support saham ini di level Rp 860/830 dan resistance pada Rp 950,” kata dia. (asp)


Tips RALS

Tren
Jangka pendek: cenderung menguat
Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental
Akhir 2006, penjualan bersih diperkirakan naik 12,8% jadi Rp 4,85 triliun
PER: 47,89 kali, PBV: 3,81 kali

Teknis
MACD: masih bullish
RSI: overbought
Candlestick: berpotensi terkoreksi

Rekomendasi
Arief Budisatria:
Jangka pendek: sell on strength
Menengah-panjang: beli
Support: Rp 890, resistance: Rp 950

Mustafa Kamil:
Jangka pendek: buy on weakness
Menengah-panjang: buy
Support: pertama Rp 860/830, resistance: Rp 950

Saham Semen Gresik Layak Koleksi

12/10/2006 22:04:00 WIB

JAKARTA, Investor Daily
Saham PT Semen Gresik Tbk (SMGR) diperkirakan menguat kembali dalam waktu dekat, setelah pada perdagangan Rabu (11/10) ditutup terkoreksi. Faktor fundamental dan teknis yang menjanjikan, berpotensi mendorong pergerakan SMGR ke area positif.

“Saham ini layak dikoleksi,” kata analis PT Mega Capital Indonesia Ikhsan Binarto kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (5/10).

Pada perdagangan kemarin, SMGR terkoreksi Rp 250 ke posisi Rp 27.400. Volume transaksi saham berpindah tangan mencapai 262 ribu lembar senilai Rp 7,18 miliar, dengan frekuensi transaksi hanya 56 kali.

Menurut Ikhsan, berdasarkan analisis teknis, SMGR berpeluang menguat kembali setelah pada perdagangan kemarin ditutup di teritori negatif. Konfimasi tersebut ditunjukkan indikator relative strength index (RSI) 7 hari. “Walaupun mulai memasuki area overbought, SMGR masih memiliki ruang untuk naik,” jelasnya.

Dia menambahkan, indikator RSI 14 hari juga turut menunjukkan saham Semen Gresik berpotensi menguat untuk jangka pendek. “Dari indikator tersebut terlihat posisi saham Semen Gresik berada di area netral, dengan kecenderungan menguat,” ujarnya.

Lebih lanjut Ikhsan mengatakan, secara fundamental kinerja perseroan sektor semen tersebut cukup menjanjikan. Pada semester I 2006, Semen Gresik mencatat kenaikan pendapatan sebesar 20% dibanding periode sama tahun lalu. Sedangkan laba bersih dibukukan di atas Rp 600 miliar.

“Pada 2006, perusahaan menargetkan kenaikan laba bersih 10-20% dibanding 2005, karena adanya efisiensi dan sinergi dengan anak perusahaan, serta kenaikan harga jual akibat naiknya harga BBM tahun lalu,” jelasnya.

Dia menambahkan, earning per share (EPS) SMGR tahun ini diprediksi meningkat menjadi Rp 2.237 per saham, dibanding sebelumnya Rp 1.724 per saham terdorong perbaikan kinerja perseroan. Valuasi saham ini juga murah, karena price to earning ratio (PER) 12,25 kali dan price to book value (PBV) 3,34 kali. Sedangkan PER PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sudah 25,81 kali, dengan PBV 3,06 kali,” ujarnya.

Sementara itu, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, dari sisi teknis, indikator moving average convergence divergence (MACD) menunjukkan SMGR akan kembali terkoreksi, karena sudah memasuki area jenuh beli (overbought). “Konfirmasi tersebut juga terbaca dari indikator teknis lain seperti stochastic oscillator,” ujarnya.

Kendati demikian, dia mengakui, jika dalam waktu dekat harga SMGR mampu bertahan pada level support Rp 26.250, atau strong support Rp 25.000, saham Semen Gresik berpeluang menguat kembali menuju Rp 30.000. “Meski dari tren harian masih cenderung melemah, peluang kenaikan bisa terjadi, apabila strong support dilevel Rp 25.000 tidak terlewati,” tegasnya.

Rekomendasi

Ikhsan merekomendasikan beli saham Semen Gresik untuk jangka pendek, menengah maupun panjang, karena prospek ke depan masih menjanjikan. “Support saham ini di level Rp 25.200 dan resistance pada Rp 28.000, dengan target harga Rp 32.000,” jelasnya. Sedangkan Mustafa merekomendasikan wait and see SMGR untuk jangka pendek, karena masih dalam tren bearish dan rawan aksi ambil untung (profit taking). Namun, untuk jangka menengah dan panjang, dia merekomendasikan buy on weakness, seiring inflasi dan suku bunga yang cenderung turun. “Support saham semen ini Rp 26.250/25.000 dan resistance Rp 28.850/30.000,” ujarnya. (asp)

Indeks Tembus ke Level 1.572

14/10/2006 03:17:00 WIB

JAKARTA, Investor Daily
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta atau BEJ kembali mencatat rekor baru pada penutupan perdagangan Jumat (13/10). Indeks menguat 22,66 poin atau naik 1,46% menjadi 1.572 dari perdagangan sebelumnya.

Salah satu pemicu utama kenaikan indeks yakni menguatnya semua bursa regional dan global. Kenaikan indeks bursa global ditopang membaiknya makro ekonomi Amerika Serikat seperti inflasi. Pada penutupan perdagangan kemarin, sejumlah bursa regional dan global berhasil mencetak rekor tertinggi baru, antara lain Hang Seng dan Dow Jones. Bahkan, bursa Hong Kong menembus level 1.800, tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Analis pasar modal dari Evergreen Capital Edwin Sebayang mengatakan, penguatan indeks terutama dipicu Dow Jones yang sejak berdiri 110 tahun baru sukses mencapai posisi tertinggi, yakni 11.947 atau naik 95 poin dari posisi sebelumnya.
“Recovery yang terjadi pada perusahaan-perusahaan AS tentu di luar ekspektasi para analis. Sebab, inflasi di negara adikuasa itu cukup rendah. Sentimen positif tersebut turut mendorong pergerakan indeks regional dan global,” ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.

Edwin mengatakan, kenaikan indeks juga dipicu sentimen positif dari penurunan harga minyak dunia. Harga minyak mentah dunia kini berada di level US$ 58 per barel atau turun dari sebelumnya US$ 70 per barel.
Dari sisi suku bunga, lanjut dia, Bank Sentral AS diperkirakan menurunkan suku bunga The Fed pada pertengahan 2007. Hal sama dilakukan Bank Indonesia (BI). “Suku bunga SBI diperkirakan turun 9,75% hingga 10,25%. Sedangkan 2007 berpotensi turun sampai 8%,” tandas dia.

Faktor positif lain berasal dari stabilnya inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga kinerja perusahaan diperkirakan membaik. Menurut dia, investor dalam tiga atau dua bulan terakhir ini akan banyak mengubah portofolionya. Dengan begitu, tandas dia, IHSG bergerak lebih atraktif.
Ketika ditanya kemungkinan indeks bisa menembus level di atas 1.600 hingga akhir tahun ini, dia mengatakan peluang itu sangat terbuka. Bahkan target bisa tercapai pada awal atau pertengahan November 2006.

Dia memperkirakan, dalam perdagangan selama pekan mendatang, investor ingin mengamankan posisinya, sehingga kemungkinan terjadi aksi ambil untung (profit taking).

Menurut Edwin, dana pensiun akan menempatkan sekitar Rp 25 triliun hingga Rp 30 triliun untuk pasar obligasi dan pasar saham.
Sedangkan analis Reliance Securities Pardomuan Sihombing menilai, kenaikan indeks dipicu bursa regional yang positif. Faktor penggeraknya yaitu ekspektasi bank sentral AS untuk tetap mempertahankan suku bunga The Fed.

“Pasar melihat, keputusan mempertahankan posisi The Fed atau bahkan menurunkannya terbuka lebar. Hal tersebut didukung oleh data yang menunjukkan adanya perbaikan ekonomi negara adidaya tersebut,” jelas dia.
Pelaku pasar, lanjut dia, menyambut baik sentimen positif tersebut, sehingga memicu aksi beli secara agresif.
Sama dengan pendapat Edwin, Pardomuan menegaskan menguatnya bursa Dow Jones hingga di atas 1.900 ikut memicu sentiment positif bagi pelaku pasar. Turunnya harga minyak juga merupakan informasi menggembirakan bagi investor. Dia menilai, kedua sentimen tersebut direspons baik oleh pemodal lokal.

Menurut Edwin, sektor infrastruktur menjadi penopang utama pertumbuhan indeks, sehingga naik 9,10 poin menjadi 652,89 dari sebelumnya 643,78. Sektor lainnya yakni pertambangan, keungan, dan konsumsi.

Analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil menambahkan, keberhasilan indeks terdorong pergerakan positif indeks regional yang mengalami pembalikan arah (rebound) pascapenurunan sebelumnya.

Dia mengatakan, arah indeks akan bergerak sesuai platform fibonachi retracement 161,8% di level 1.750 sebagai batas tertinggi sebelumnya. "Jadi level 1.600 sepertinya akan mudah dicapai tahun ini," jelasnya. (asp/mdn/rad)

Indeks Masih Berpeluang Melemah

17/10/2006 01:33:55 WIB

JAKARTA, Investor Daily
Analis memperkirakan posisi saham papan atas dan lapis dua yang mulai kelebihan beli (overbought) bisa mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali bergerak negatif pada Selasa (17/10). IHSG pada Senin (16/10) terkoreksi 10,41 poin (0,66%) ke level 1.561,786 dari posisi sebelumnya di 1.572,198.

“Indeks berpeluang melemah kembali karena posisi saham unggulan dan lapis dua sudah overbought,” ujar analis PT Corfina Capital Deni Hamzah kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin. Deni memperkirakan, indeks hari ini bergerak pada support 1.550 dan resistance di level 1.575.

Menurut dia, IHSG masih rawan terkena aksi ambil untung (profit taking) investor karena harga sejumlah saham berkapitalisasi pasar terbesar yang menjadi penentu indeks dan lapis kedua masih rentan terkoreksi. “Hari ini (kemarin, red), pelemahan IHSG terpicu pergerakan negatif saham-saham blue chips seperti TLKM, BMRI, PGAS, dan ISAT,” ujar dia.

Deni berpendapat, prediksi bursa regional yang cenderung melemah setelah rally dalam beberapa hari terakhir, dan antisipasi libur panjang Lebaran juga memicu investor merealisasikan keuntungan jangka pendek. Akibatnya, hal tersebut menjadi pemicu berlanjutnya pergerakan IHSG menuju teoriti negatif.
“Namun selektif beli saham masih dapat dilakukan, terutama pada saham-saham yang harganya masih relatif tertinggal,” jelas dia.

Sementara itu, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil menambahkan, secara teknis indeks hari iniberpeluang menguat kembali setelah bergerak negatif. Menurut dia, konfirmasi tersebut terbaca dari pola engulfing bear candle pasca terlepasnya IHSG dari kungkungan ascending triangle dengan moving average (MA) yang masih mendukung, serta arah yang belum keluar dari uptrend line.

“Dengan pola teknis di atas, ada kemungkinan indeks memasuki fase testing support untuk selanjutnya bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat. Apalagi, rupiah yang menguat akan berimbas positif pada pasar modal,” jelasnya.

Dia memprediksi, support indeks ada di level 1.545 dan level 1.522 sebagai strong support. Sedangkan resistance berada pada posisi 1.578 dan 1.600 (strong resistance), dengan tren menguat. Saham-saham yang boleh menjadi pilihan adalah saham lapis dua.
Menurut Deni, saham-saham yang masih boleh diperhatikan pada perdagangan hari ini adalah BBKP, PTBA, TLKM, BMRI, dan PGAS. (asp)


IHSG
Deni Hamzah, analis PT Corfina Capital
Support: 1.550
Resistance: 1.577

Mustafa Kamil, analis PT Phillip Securities Indonesia
Support: 1.545 dan 1.522
Resistance: 1.578 dan 1.600

Saham Pilihan
Mustafa Kamil, analis PT Phillip Securities Indonesia
Buy: saham lapis dua

Deni Hamzah, analis PT Corfina Capital
Buy: BBKP dan PTBA
Buy on weakness: TLKM, BMRI, dan PGAS

Indofood Masuki Industri Biodiesel

17/10/2006 01:46:51 WIB

JAKARTA, Investor Daily
PT Indofood Sukses Makmur Tbk memastikan terjun ke industri biodiesel berbahan baku minyak sawit. Perseroan telah mengantongi izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk kapasitas produksi 225 ribu ton per tahun. Nilai investasi diperkirakan sebesar US$ 75 juta atau Rp 690 miliar.

Keputusan memasuki industri biodiesel tersebut menyusul rampungnya akuisisi Indofood atas saham Rascal Holding Ltd di PT Mentari Subur Abadi, PT Swadaya Bhakti Negaramas, dan PT Mega Citra Perdana senilai Rp 125 miliar. Ketiga perusahaan itu memiliki 85.541 hektare (ha) lahan kebun sawit di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.
“Kami siap menjadi salah satu pemain biodiesel di Indonesia, setelah rampungnya akuisisi 60% saham milik Rascal di tiga perusahaan perkebunan sawit,” ujar Direktur Indofood Thomas Tjhie usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) perseroan di Jakarta, Senin (16/10).
Sebagai salah satu produsen minyak sawit mentah (CPO) dan minyak goreng terbesar di Indonesia, Infoood berambisi menyusul pemain biodiesel sebelumnya, seperti Sinar Mas Grup, Astra, Bakrie, dan Wilmar International.
Menurut Thomas, akuisisi Indofood atas mayoritas saham Rascal di tiga perusahaan sawit tadi telah disepakati pemegang saham dalam RUPSLB kemarin. Penutupan transaksi akuisisi akan diselesaikan pada Desember 2006. Sedangkan akuisisi lahan dilakukan melalui anak usaha, yakni PT Salim Ivomas Pratama (SIMP).
Thomas belum menjelaskan lebih rinci nilai investasi dan kapan pabrik biodiesel dapat direalisasikan. Tapi dia memberi gambaran, biaya investasi untuk memproduksi 100.000 ribu ton per tahun biodiesel sekitar US$ 25-30 juta. Dengan asumsi itu, bila Indofood hendak membangun pabrik berkapasitas 225 ribu ton per tahun, dibutuhkan dana sedikitnya US$ 75 juta atau setara Rp 690 miliar. Rencana Indofood memproduksi biodiesel telah mendapat izin prinsip dari BKPM.
Thomas menambahkan, lebih dari 50% produksi CPO dari ketiga perusahaan sawit itu akan diolah menjadi biodiesel.
Indofood saat ini memiliki sekitar 138.000 ha kebun sawit, 63.000 ha di antaranya telah ditanami sawit. Produksi kebun sawit perseroan hanya mampu memasok 50% kebutuhan CPO untuk divisi pengolahan minyak goreng. Sedangkan sisanya harus dipasok dari produsen CPO lainnya.
Wakil Dirut Indofood Franciscus Welirang menyatakan, perseroan berencana mengembangkan sekitar 20.000 hektare (ha) kebun sawit per tahun, di luar akuisisi kebun sawit milik Rascal. Nilai investasi diproyeksikan mencapai US$ 20 juta. Dengan ekspansi itu, hingga 2015 perseroan bakal memiliki 250.000 ha kebun sawit.
Investasi US$ 1,8 Miliar
Menurut Data BKPM, lebih dari 19 perusahaan telah mendapat izin prisip untuk investasi biodiesel. Nilai investasi biodiesel pada 2006 tercatat US$ 600 juta dan tahun depan diprediksi meningkat tiga kali lipat atau US$ 1,8 miliar seiring maraknya niat pebisnis.
Sementara itu, Dirut Rekayasa Industri Triharyo Soesilo menambahkan, minat asing dan lokal memasuki industri biodiesel sangat tinggi untuk mengantisipasi tingginya permintaan ke depan. Rekayasa telah bermitra dengan Bakrie Sumatera untuk memproduksi 100 ribu ton per tahun biodiesel.
Sedangkan Dirut PT Eterindo Wahanata Tbk Immanuel Sutarto mengaku, potensi bisnis biodiesel sangat menguntungkan. “Dulu, biodiesel sudah pernah dikembangkan, tapi harganya belum kompetitif seperti sekarang ini,” papar dia kepada Investor Daily.
Dia menjelaskan, kebutuhan biodiesel di Tanah Air mencapai 5% dari total bahan bakar minyak sebesar 30 juta ton per tahun. “Itu kan besar sekali dan saya yakin tiga tahun ke depan kebutuhan bertambah menjadi 3 juta ton per tahun,” jelasnya.
Permintaan biodiesel untuk pasar luar negeri juga besar. Sutarto memberi contoh, kebutuhan biodiesel di Amerika Serikat mencapai 7 juta ton per tahun.
Kapasitas produksi biodiesel tahun 2006 di Indonesia baru mencapai 110.000 kiloliter per tahun. Pada 2007, kapasitas akan meningkat jadi 200.000-400.000 kiloliter per tahun.
Menyinggung pasokan bahan baku, dia menilai masih cukup memadai, mengingat kapasitas produksi CPO mencapai 15 juta ton per tahun. “Dari jumlah tersebut, pabrik biodiesel akan menyerap 30%,” tegas Sutarto.
Tiga bulan lalu, harga CPO ekspor sebesar US$ 400 per ton, sedangkan jika diolah menjadi biodiesel dapat mencapai US$ 600 per ton.
Ditanggapi Beragam
Kiprah Indofood memasuki bisnis biodiesel ditanggapi beragam para analis saham. Ada yang menyebut keputusan ini sangat positif, namun ada yang menilai itu bukan keputusan yang tepat.
Bagi analis pasar modal Edwin Sinaga, biodiesel merupakan usaha yang prospektif karena kebutuhan akan energi alternatif cukup tinggi. Namun, dia berpendapat Indofood sebaiknya masih fokus di bisnis makanan dulu.
Kendati biayanya mahal, diversifikasi tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan perseroan, sejauh proyeknya berhasil dengan baik. Dia menilai, aksi korporosi berpotensi memicu manajer investasi untuk merevisi target harga saham lebih tinggi. Sebelumnya harga saham perusahaan tertekan akibat rugi kurs dan tingginya biaya operasional.
Senada dengan Edwin, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, rencana Indofood merambah ke biodiesel cukup menjanjikan. Sebab, aksi itu dapat memperkecil biaya energi yang selama menggunakan solar. “Dengan masuk ke biodiesel, berarti ongkos produksi akan berkurang,” ujarnya.

Analis PT Meridian Capital Indonesia Muhammad Habdi juga menilai, masuknya Indofood ke bisnis energi alternatif ikut menopang penghasilan selain dari bisnis inti mi instan. “Kami tahu, Indofood memiliki kebun sawit cukup luas dan nantinya tinggal menikmati hasil,” ungkap dia.
Berbeda dengan tiga analis di atas, analis Trimegah Securities Arhya Satyagraha berpendapat, ekspansi ke biodiesel bukan pilihan tepat. Sebab, biodiesel butuh bahan baku kelapa sawit yang relatif besar. Padahal, langkah Indofood mengakuisisi sejumlah kebun sawit hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan internal.
Lagi pula, kata dia, proyek biodiesel menelan dana sangat besar. Padahal, saat ini perseroan belum menunjukkan neraca keuangan yang solid.
Dia menduga, ekspansi ke biodiesel akan dilakukan melalui anak usaha di bidang kelapa sawit yang berencana listing di bursa Singapura. “Ekspansi ke biodiesel bukan merupakan ide bagus. Perusahaan harus tetap fokus di bisnis utama, yakni mi instan yang terbukti memberikan keuntungan,” tegas dia.

Pada perdagangan kemarin, saham Indofood ditutup stagnan di level Rp 1.310 per lembar, ditransaksikan 288 kali dengan volume transaksi 20,98 juta saham senilai Rp 27,57 miliar. Indofood menempati posisi ke-20 saham berkapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan nilai Rp 12,37 triliun. (pam/rad/asp/amu/ys/kp)

Saham Indofood Berpeluang Menguat

18/10/2006 01:32:01 WIB

JAKARTA, Investor Daily
Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) berpotensi menguat kembali dalam jangka pendek, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup terkoreksi. Konfirmasi tersebut terbaca dari sisi teknis yang menunjukkan INDF bergerak mendatar (sideways) dengan kecenderungan menguat.

“Sentimen positif lain terlihat dari faktor fundamental yang menjanjikan,” kata analis PT Meridian Capital Indonesia Muhammad Habdi kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (17/10).

Pada perdagangan kemarin, INDF ditutup terkoreksi Rp 10 ke level Rp 1.300. Saham produsen mi instan tersebut ditransaksikan 295 kali, dengan volume transaksi sebanyak 20,19 juta saham senilai Rp 26,51 miliar.

Menurut Habdi, indikator teknis relative strength index (RSI) tujuh hari menunjukkan saham Indofood berpeluang menguat kembali, setelah terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. “Walaupun demikian, INDF masih rawan profit taking, karena posisinya mulai memasuki area jenuh beli (overbought),” ujarnya.

Dia menambahkan, indikator teknis lain seperti Williams%R (W%R) turut memperlihatkan peluang penguatan kembali saham Indofood dalam jangka pendek. “Meski dari indikator tersebut, INDF sudah masuk area jenuh beli, tapi masih ada ruang untuk naik,” jelasnya.

Lebih lanjut, Habdi mengatakan, secara fundamental saham Indofood cukup menjanjikan, karena laba bersih perseroan tahun ini diperkirakan melonjak dibanding 2005 yang mencapai Rp 124 miliar. “Hal itu berdasarkan perolehan laba bersih semester I 2006 yang sudah terbukukan Rp 267,77 miliar,” ujarnya.

Dia menambahkan, dengan price to earning ratio (PER) 22,81 kali dan price to book value 2,75 kali, tahun ini perseroan masih bisa tumbuh positif, dan memiliki pangsa pasar terbesar. Selain itu, masuknya Indofood ke bisnis biodiesel setelah kelapa sawit, turut menjadi penopang pertumbuhan kinerja perseroan. “Earning per share (EPS) untuk tahun ini diprediksi meningkat tajam menjadi Rp 57 per saham dari 2005 yang mencapai Rp 15,” jelasnya.

Sementara itu, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, pascapenembusan saham Indofood di level resistance Rp 1.250, INDF berpeluang menuju target Rp 1.500 pada jangka pendek. “Konfirmasi itu terbaca dari indikator fibonachi retracement 161,8%,” ujarnya.

Dia menambahkan, posisi INDF saat ini masih berada di atas moving average (MA). Sedangkan indikator moving average convergence divergence (MACD) tetap menunjukkan sinyal beli pada INDF dalam waktu dekat. “Faktor fundamental juga mendorong pergerakan positif INDF,” ujarnya.

Tumbuh 10%
Sementara itu, Indofood Sukses Makmur memperkirakan volume penjualan pada semester II 2006 bisa tumbuh sekitar 10% dibanding semester I 2006. Hal tersebut seiring peningkatan konsumsi masyarakat selama bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru yang terjadi pada kuartal III dan IV tahun ini.

Wakil Direktur Utama Indofood Sukses Makmur Franciscus Welirang mengatakan, kenaikan volume penjualan pada paruh kedua 2006 akan mengerek nilai penjualan dengan persentase yang kurang lebih sama. "Pada kuartal III dan IV banyak liburan, sehingga permintaan meningkat," kata dia di sela buka puasa bersama dan silaturahmi dengan wartawan di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Franciscus, kenaikan permintaan, khususnya produk mi instan, dipengaruhi oleh kenaikan harga beras. "Perbedaan harga terigu dan beras tidak jauh, tapi harga terigu selalu di atas harga beras," ungkap dia. Menyikapi kondisi tersebut, Indofood telah menaikkan harga jual produk tepung terigu pada September lalu. Namun demikian, perseroan tidak menaikkan harga jual mi instan.

Franciscus memproyeksikan penjualan lebih dari 10 miliar pack mi instan pada akhir tahun ini dibanding tahun lalu yang di bawah 10 miliar pack.

Lebih lanjut, dia menegaskan, Indofood akan mampu mencapai target penjualan hingga akhir 2006. Pasalnya, kinerja perseroan hingga kuartal III cukup konsisten. “Tapi saya tidak bisa memastikan angka tepatnya,” ujar Franciscus.

Produsen mi instan terbesar di Indonesia itu juga akan meneruskan program ekspansi pada 2007 yang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan. Ekspansi yang telah dan akan dijalankan perseroan, antara lain akuisisi perusahaan guna memperkuat lini bisnis yang ada dan konversi sumber energi.

Selama paruh pertama 2006, keuntungan Indofood meningkat tajam menjadi Rp 267,8 miliar dibanding periode sama 2005 sebesar Rp 14,5 miliar. Seiring dengan bertambahnya volume penjualan, penerimaan juga meningkat 17,8% menjadi Rp 10,1 triliun dari Rp 8,6 triliun tahun lalu.

Rekomendasi
Habdi merekomendasikan buy on weakness saham Indofood untuk jangka pendek. Kemudian untuk jangka menengah dan panjang, dia tetap menyarankan beli. “Support saham ini Rp 1.290 dan resistance pada level Rp 1.400,” ujarnya. Sedangkan Mustafa merekomendasikan trading buy INDF untuk yang mengambil jangka pendek. Namun, dalam jangka menengah maupun panjang, dia masih menyarankan beli. “Support saham ini di level Rp 1.250 dan resistance Rp 1.350,” jelasnya. (asp)


Tips INDF

Tren
Jangka pendek: mendatar cenderung menguat
Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental
Semester I 2006, laba bersih Rp 267,8 miliar
PER: 22,81 kali, PBV: 2,75 kali

Teknis
RSI: mulai overbought
W%R: mendekati overbought
MACD: masih ada sinyal beli

Rekomendasi
M Habdi:
Jangka pendek: buy on weakness
Jnagka menengah-panjang: beli
Support:Rp 1.290, resistance:Rp 1.400

Mustafa Kamil:
Jangka pendek: trading buy
Jangka menengah-panjang: buy
Support: Rp 1.250, resistance: Rp 1.350

Indeks Rawan Ambil Untung

20/10/2006 04:56:47 WIB

JAKARTA, Investor Daily
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada akhir pekan ini rawan aksi ambil untung pemodal karena mengantisipasi libur panjang Lebaran. Meski demikian, sepinya aktivitas transaksi justru membuka peluang untuk mengangkat posisi IHSG. Pada perdagangan Kamis (19/10) IHSG ditutup menguat 4,04 poin di posisi 1.568,59.

Menurut analis Trimegah Securities T Heldy Arifien, banyak pemodal akan merealisasikan keuntungan pada hari ini sebelum libur panjang minggu depan. “Pergerakan indeks saat ini hanya digerakkan oleh news tertentu seperti keluarnya kinerja kuartal tiga. Selebihnya pelaku pasar lebih memilih untuk merealisasikan cash menjelang libur,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.

Dia menilai, aksi ambil untung tersebut berpeluang memicu konsolidasi kendati terlihat masih ada aksi beli selektif pada perdagangan kemarin. Heldy merekomendasikan beberapa saham lapis kedua yang memiliki fundamental positif dan valuasi atraktif seperti BMTR dan BLTA.
Dia memperkirakan, IHSG hari ini bergerak di kisaran support dan resistance masing-masing 1.550 dan 1.570. Menurut dia, peluang ayunan indeks hari ini akan cukup besar dilihat dari kisaran yang cukup lebar.

Sementara itu, Analis Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil menilai, sebagian pelaku pasar telah mengantisipasi liburan sejak lama. Dengan demikian, ada kemungkinan IHSG bisa diangkat ke level yang lebih tinggi. “Secara teknis terlihat peluang kenaikan dilihat dari posisi chandle chart IHSG yang kembali bergerak di atas pola ascending triangle,” jelasnya.

Menurut dia, sejak kemarin transaksi tidak terlalu likuid. Selain itu, volume perdagangan juga terhitung menipis. Namun demikian, investor asing masih mencatat net buying senilai Rp 20,72 miliar di perdagangan kemarin.
Mustafa memperkirakan indeks hari ini akan bergerak di rentang support pertama dan kedua masing-masing 1.551 dan 1.529. Sementara itu, resistance pertama dan kedua ada di posisi 1.582 dan 1.607. (mdn)

IHSG
T Heldy Arifien, Trimegah Securities
Support: 1.550
Resistance: 1.570

Mustafa Kamil, Phillip Securities Indonesia
Support 1: 1.551
Support 2: 1.529
Resistance 1: 1.582
Resistance 2: 1.607

Saham Pilihan
T Heldy Arifien, Trimegah Securities
Buy:BMTR dan BLTA

Mustafa Kamil, Phillip Securities Indonesia
Buy: saham lapis kedua

Indeks Bergerak Variatif

07/11/2006 01:27:15 WIB

JAKARTA, Investor Daily
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) Selasa (07/11) akan dipengaruhi respons investor terhadap hasil rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) tentang penurunan suku bunga. Menurut analis, indeks bakal bergerak variatif (mixed) karena dibayangi aksi ambil untung (profit taking) setelah pada Senin (6/11) ditutup naik 27,92 poin dan menembus posisi tertinggi baru di level 1.640,84.

Analis Sinar Mas Sekuritas Alfiansyah mengatakan, penurunan BI rate 50 basis poin (bps) telah diantisipasi pelaku pasar sejak beberapa pekan lalu. Dengan demikian, pergerakan IHSG hari ini akan dipengaruhi oleh aksi sell on news pemodal.

“Bila ternyata BI rate besok (hari ini,red) turun sesuai ekspektasi market, untuk sesaat investor akan banyak merealisasikan keuntungan,” ujarnya kepada Investor Daily, kemarin.
Kendati demikian, lanjut dia, sebagain investor kemungkian mengakumulasi saham untuk mengantisipasi tren kenaikan indeks hingga akhir tahun.
Pada hari ini, dia menyarankan investor mencermati saham-saham berkapitalisasi besar yang masih berpeluang menguat secara teknis seperti TLKM. Selain itu, saham perbankan seperti BMRI, BBRI, dan BBCA masih menarik untuk dikoleksi.

Alfiansyah memperkirakan indeks hari ini bergerak di kisaran support dan resistance masing-masing 1.608 dan 1.660. Sementara itu, analis Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil memperkirakan indeks bisa bergerak di rentang support pertama dan kedua masing-masing 1.623 dan 1.599 dengan posisi resistance pertama dan kedua ada di 1.657 dan 1.681.

Menurut Mustafa, IHSG secara teknis masih berpeluang melanjutkan pola penguatannya dengan target resistance baru di level 1.750. Namun, posisi indeks terhitung rawan profit taking setelah kenaikan indeks Nikkei turut mengimbas IHSG BEJ di perdagangan kemarin.
“Di dekat harga tertinggi biasanya akan banyak pelaku pasar merealisasikan keuntungan,” ujarnya kepada Investor Daily.
Namun, dia mengingatkan, momentum koreksi bisa digunakan untuk membeli secara selektif saham-saham yang memiliki kinerja bagus. (mdn)

Valuasi Saham Enseval Murah

14/11/2006 00:28:02 WIB

JAKARTA, Investor Dialy
Saham PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT) masih menjanjikan untuk perdagangan jangka pendek maupun panjang. Valuasi saham perseroan murah dibanding emiten sejenis di sektornya.

“Secara teknis memang bergerak flat to down, tapi dalam dua hari kemudian akan menguat,” kata analis PT Ekokapital Sekuritas Djoko Rahardjo kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (13/11).

Pada perdagangan kemarin, EPMT ditutup stagnan di level Rp 690. Saham distributor produk farmasi tersebut ditransaksikan hanya 54 kali, dengan volume transaksi sebanyak 2,31 juta saham senilai Rp 1,60 miliar.

Menurut Djoko, secara fundamental Enseval tetap menjanjikan untuk dikoleksi, karena valuasi saham termasuk murah dibanding kompetitornya seperti PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) yang memiliki price to earning ratio (PER) 13,3 kali dan price to book value (PBV) 0,33 kali. “Sedangkan PER EPMT hanya 8,52 kali dan PBV tercatat 1,78 kali,” jelasnya.

Dia menambahkan, walaupun kinerja perusahaan menurun pada kuartal III 2006, dengan laba bersih Rp 48,2 miliar, hingga akhir tahun ini performa akan membaik, seiring turunnya inflasi dan minyak mentah di pasar internasional. “Bahkan, dicabutnya tarif listrik multiguna untuk industri turut menjadi sentimen positif bagi kinerja perseroan,” ujarnya.

Djoko mengatakan, earning per share (EPS) saham Enseval tahun ini diperkirakan tidak jauh berbeda dari perolehan tahun sebelumnya Rp 89 dan 2004 yang mencapai Rp 78 per saham. EPS hingga akhir 2006 diprediksi Rp 88 per saham. “Memang ada sedikit penurunan, tapi kisarannya tidak akan jauh (dari 2005, red),” jelas dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan, secara teknis EPMT berpeluang melemah untuk jangka pendek, karena dari indikator relative strength index (RSI) 5 dan 10 hari menunjukkan pergerakan mendatar dengan kecenderungan terkoreksi. “Apalagi, saat ini marak aksi ambil untung (profit taking), sehingga dapat berimbas pada saham Enseval,” ujar Djoko.

Namun, aksi ambil untung tersebut tidak akan berlangsung lama, karena dalam dua hari kemudian, EPMT diprediksi menguat, seiring akumulasi beli EPMT untuk mengantisipasi kinerja 2006 yang diperkirakan positif. “Jadi, pelemahan harga tidak akan berlangsung lama,” tegasnya.

Sementara itu, analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, saham Enseval berpotensi melemah dalam waktu dekat. Konfirmasi tersebut terbaca dari tren pergerakan saham untuk 21 hari. “Arah penurunan juga terlihat dari indikator moving average convergence divergence (MACD) yang masih menujukkan tekanan jual,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika pada jangka pendek harga EPMT ditutup melewati support Rp 670, saham sektor farmasi tersebut akan menuju strong support pada harga Rp 630. “Analisis tersebut terbaca dari fibonachi retracement,” kata Mustafa.

Investasi Rp 80 Miliar
Sementara itu, Enseval Putera Megatrading menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 80 miliar hingga akhir tahun ini. Pendanaan capex sepenuhnya berasal dari kas internal perseroan.

Direktur merangkap Sekretaris Perusahaan Enseval Putera Megatrading Djamarwie mengatakan, belanja modal tersebut digunakan untuk membiayai investasi berkala dalam bentuk pembangunan gudang baru, fasilitas cabang baru, kendaraan operasional baru, dan sistem teknologi informasi (TI) berbasis Oracle. "Investasi tersebut dilakukan untuk pengembangan bisnis ke depan agar perseroan tetap kuat di industri distribusi produk kesehatan dan konsumsi," ujar dia beberapa waktu lalu.

Selain itu, Enseval telah melunasi utang bank berupa fasilitas pinjaman sindikasi dan bilateral sejumlah total US$ 30,7 juta. Perseroan mempercepat pelunasan sisa utang sebesar US$ 13,7 juta pada 29 September 2006.

Utang tersebut merupakan hasil restrukturisasi pada 2005 di bawah koordinasi Royal Bank of Scotland cabang Singapura. Utang bank ini baru akan jatuh tempo pada 2010. Sejak restrukturisasi disetujui hingga Mei 2006, Enseval telah membayar cicilan pokok sebesar US$ 5 juta.

Per 30 Juni 2006, Enseval membukukan penjualan bersih Rp 2,64 triliun, tumbuh 2,33% dibanding periode sama 2005 Rp 2,58 triliun. Namun, laba usaha tergerus 14,64% dari Rp 131,73 miliar menjadi Rp 112,45 miliar.

Hal itu disebabkan oleh lonjakan beban pokok penjualan dan beban usaha menjadi masing-masing Rp 2,33 triliun dan Rp 204,66 miliar dari sebelumnya Rp 2,27 triliun dan Rp 175,71 miliar. Akibatnya, laba bersih turun dari Rp 96,37 miliar pada periode Januari-Juni 2005 menjadi Rp 90,30 miliar pada Januari-Juni 2006.

Rekomendasi
Djoko merekomendasikan buy on weakness saham Enseval untuk jangka pendek. Sedangkan dalam jangka menengah dan panjang, dia menyarankan beli karena masih menjanjikan untuk dikoleksi. “Support saham ini Rp 640/630 dan resistance pada level Rp 730/750,” kata dia. Sementara itu, Mustafa merekomendasikan wait and see EPMT untuk investor jangka pendek. Tapi, untuk jangka menengah dan panjang, pemodal boleh buy on support. “Support di level Rp 670/630 dan resistance pada posisi Rp 710/725,” ujarnya. (asp)


Tips EPMT

Tren
Jangka pendek: mendatar cenderung terkoreksi
Jangka menengah-panjang: menguat

Fundamental
Semester I, laba bersih Rp 90,30 miliar
PER: 8,52 kali, PBV: 1,78 kali

Teknis
RSI: flat to down
MACD: tekanan jual

Rekomendasi
Djoko Rahardjo:
Jangka pendek: buy on weakness
Menengah-panjang: beli terbatas
Support: Rp 640/630, resistance: Rp 730/750

Mustafa Kamil:
Jangka pendek: wait and see
Menengah-panjang: buy on support
Support: Rp 670/630, resistance: Rp 710/725

IHSG Terkoreksi 25 Poin

14/11/2006 18:37:13 WIB

JAKARTA, Investor Daily
Melemahnya rata-rata bursa regional menjadi pemicu utama turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdangangan Senin (13/11) sebesar 25 poin ke level 1.639,270 dari posisi sebelumnya 1.664,548. “Indeks regional yang paling kuat mendorong IHSG terkoreksi,” kata analis PT Danasakti Securities Arief Budisatria kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.

Menurut Arief, penurunan indeks setelah berhasil menembus rekor tertinggi baru diperkirakan akibat melemahnya seluruh pasar regional. Hang Seng Indeks terkoreksi 22,60 poin (0,12%) ke posisi 18.868,54, Nikkei 225 turun 89,94 poin (0,56%) ke level 16.022,49, dan Taipeh Weighted Index melemah 38,14 poin (0,53%) menjadi 7.136,06. “Jadi melemahnya pasar Asia turut mendorong turunnya indeks cukup tajam,” tandas dia.

Dia menambahkan, sepinya sentimen positif dari pasar domestik setelah penurunan inflasi Oktober 2006 dan BI rate merupakan momentum bagi investor dalam merealisasikan keuntungan. “Paling-paling yang masih ditunggu investor tinggal data inflasi akhir tahun ini. Bahkan ditinjau dari sisi teknis, IHSG sudah overbought dan berpotensi terkoreksi,” jelasnya.

Arief mengatakan, melemahnya saham berkapitalisasi pasar terbesar di sektor perbankan, yakni PT Bank Mandiri Tbk, termasuk penyumbang terbesar terkoreksinya indeks pada perdagangan kemarin. Apalagi, tambah dia, seluruh sektor yang ada juga ditutup melemah.

Sektor infrastruktur turun 12,29 poin ke level 702.609, agrobisnis melemah 12,06 poin ke level 943.308, dan pertambangan turun 5,22 poin menjadi 829.919.

Sedangkan analis PT Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil berpendapat, kejatuhan indeks ke level 1.639 dipicu oleh sepinya berita positif di pasar yang selama ini selalu membuat para pelaku pasar modal untuk meramaikan bursa. Selain itu, bursa regional yang ditutup negatif ikut memicu turunnya indeks.
Kendati demikian, kata dia, penurunan IHSG tidak berlangsung lama dan tetap bertahan di level psikologis di 1.600. Sebab, secara teknis indeks masih dalam tren bullish untuk jangka panjang. “Apalagi kondisi politik dan ekonomi Indonesia masih diekspetasi para investor cukup bagus ke depan. Sehingga, hal tersebut bisa menjadi sentimen positif bagi pergerakan indeks selanjutnya,” ujarnya. (asp)

IHSG Dibayangi Profit Taking

15/11/2006 01:09:27 WIB

JAKARTA, Investor Daily
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada Rabu (15/11) berpeluang melanjutkan pergerakan positif, karena ditopang penguatan harga beberapa saham unggulan (blue chips).

Namun demikian, beberapa analis menilai, pergerakan IHSG akan dibayangi aksi ambil untung (profit taking) sebagian pemodal. Pada perdagangan Selasa (14/11), indeks menguat 32,80 poin ke level tertinggi baru 1.672,07.

Menurut analis Meridian Capital Indonesia Muhammad Habdi, outlook fundamental dalam negeri yang positif menjadi penggerak saham-saham berkapitalisasi besar, seperti TLKM untuk kembali menguat pada hari ini.
Dia memperkirakan, indeks naik terbatas antara lima poin hingga 10 poin dan berpotensi menembus rekor baru lagi.

“Saham-saham besar akan menggerakkan kenaikan IHSG pada hari ini, sepanjang keamanan di dalam negeri dinilai aman menjelang kedatangan Presiden AS George W Bush,” kata dia kepada Investor Daily, di Jakarta, kemarin.
Di sisi lain, lanjut dia, sebagian pemodal akan mulai merealisasikan keuntungan jangka pendek. Hal tersebut dapat dilihat dari potensi gain yang cukup tinggi akibat kenaikan IHSG kemarin.
Muhammad menyarankan agar investor tetap menyimpan (hold) saham blue chips, antara lainTLKM, BBCA, BBRI, ASII, ISAT, BMRI, dan INCO. Dia memperkirakan, indeks berada di level p support-resistance 1.665-1.680.
Sementara itu, analis Phillip Securities Indonesia Mustafa Kamil menilai, pola teknis IHSG untuk jangka panjang masih mengisyaratkan kenaikan hingga level 1.750. “Pola kenaikan indeks masih berpotensi berlanjut sambil diselingi profit taking oleh sebagian investor,” jelas dia.
Menurut Mustafa, sejak perdagangan kemarin telah terbentuk pola bullish belt dan engulfing bull disertai besarnya volume transaksi perdagangan. Hal tersebut menunjukkan respons pelaku pasar atas maraknya sentimen positif.
Pada perdagangan hari ini, dia menyarankan agar investor melakukan trading bagi saham-saham penggerak IHSG, seperti ISAT dan sektor perbankan. Indeks diperkirakan bergerak pada rentang support pertama-kedua 1.654-1.630 dan resistance pertama-kedua 1.689-1.713. (mdn)